Dia masih bersinar. Dengan kharismatik yang dimiliki,
tentunya. Aku masih saja tertegun jikalau melihatnya. Entah. Tapi, perasaan itu
ada lagi. Perasaan takut lebih tepatnya.
Cara dia berbicara. Cara dia berjalan. Cara dia tertawa.
Semua seakan lengkap menggambarkan kharismanya dimataku.
Aku pikir, aku akan bisa mempertahankan posisiku saat ini
untuk tidak kemana-mana, terutama ke arahnya. Aku pikir, aku akan bisa
mengenyahkan diri dari semua hal yang menyangkut tentang kharismanya. Namun,
hasilnya justru mengecewakan.
Pengalaman. Ya, seharusnya aku belajar dari pengalaman,
seperti yang selama ini orang-orang bicarakan. Seharusnya, aku tak perlu silau
dengan auranya yang bersinar. Seharusnya, aku bisa bertahan dari terjangan
kharismanya. Seharusnya, aku tetap menutup mata, telinga terlebih hati. Ya,
untuk menghindari hal-hal mengecewakan yang pastinya akan hadir sesaat lagi.
Berita demi berita datang silih berganti. Mengenai siapa
dengan siapa, siapa yang mengapa, siapa yang bagaimana, siapa yang kemana,
siapa yang kapan.
Dia hanya memandangku kecil, bagaikan sebuah kelereng di
tengah bola-bola kaki. Tak apa, pikirku. Toh, yang penting aku masih terlihat
olehnya. Toh, dia tahu bahwa aku hanyalah sebuah kelereng di tengah bola-bola
kakinya yang besar-besar itu. Bukan merendahkan diri sendiri, loh, tapi aku
hanya ingin membentengi diri saja. Dari pil-pil pahit yang akan ku tegak,
tentunya.
Aku yang hanya berperan sebagai sebuah kelereng kecil tak
berguna, merasa salah tempat. Seharusnya aku tak pernah datang kesana.
Gelindingkan aku Ya Tuhan... Karena sungguh, aku tak dapat menggelinding
sendiri jika tidak di atas permukaan yang miring atau tidak digelindingkan.
Karena jika aku tidak segera menggelinding dan pergi, alhasil, aku akan tetap
terpaku disini, diantara bola-bola kaki yang besar-besar itu, tanpa dilihatnya,
dan menyendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar? Siapa takut.