Perang itu datang. Tak tepat pada waktu yang
direncanakan. Semua begaduh. Barisan kanan menyendiri. Barisan kiri menyendiri.
Barisan belakang pun melihat dengan heran dan sedikit senang. Sedang yang
barisan tengah, diisi oleh mereka yang menyulut serta melerai peperangan.
Semua berkumpul. Suasana tegang masih terasa.
Tidak nyaman. Tidak mencair. Aku pun begitu. Merasa jengah dan tidak betah.
Ingin keluar dari lingkaran permusuhan itu. Namun, seketika sejuknya angin laut
yang membelai wajahku sedari tadi, terasa berbeda. Tepatnya, saat ia datang.
Pandanganku tak lepas dari sosoknya. Hhh... Entah. Aku pun tak tahu apa yang
terjadi.
Aku tidak lagi memedulikan suasana
menegangkan yang menjengahkan ini. Aku tidak peduli. Dan kebetulan, dengan
t-shirt yang warnanya senada denganku, ia tampak, oh Tuhan... Bertambahlah
keyakinanku atas penciptaan-Mu terhadap keindahan. Indahnya ia, bagai indahnya
laut biru-Mu. Haha, berlebihan memang.
Sudah-sudahlah, temanku berkata. Tak perlu
lagi aku berharap sesuatu yang sudah pasti tidak akan aku dapatkan. Kurang lebih intinya begitu. Sebelum
peperangan diluar terjadi, aku pun sempat menemukan sesuatu yang, ya, sempat
kecewa karenanya. Mana gantungan itu? Entah. Tidak ada. Ya Tuhan... Aku jengah.
Selalu jengah. Selalu ingin berhenti, namun selalu pula tidak dapat. Ya. Dan
tangan ini masih ingin mengetikkan semua yang aku pikirkan tentangnya di blog
ini. Masih. Entah sampai kapan hingga aku benar-benar merasa ingin mati...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar? Siapa takut.