Alunan
lagu berjudul I Get Weak tanpa perincian singer-nya di perangkat komputerku
beradu bersama gemericik hujan di luar kamar. Terkadang, gemuruh halilintar pun
turut meramaikan riuhnya malam ini. Aku bersama bayanganku yang senantiasa
mendampingiku sedang merasa jengah. Jengah terhadap semua hal. Tidak begitu
mengerti atas apa yang telah terjadi. Dan tak akan pernah mengerti atas apa
yang akan terjadi.
Semua
terjadi sesuai kehendak-Nya. Aku tahu itu. Apa-apa yang telah atau akan terjadi
di dunia pasti telah diatur-Nya. Termasuk selembar daun kering yang jatuh
tertiup angin sekalipun. Karena apa-apa yang terjadi di dunia, tidak pernah
luput dari pengawasan-Nya.
Aku
bangkit dan menatap wajah yang kini beradu pandang denganku. Wajah itu terlihat
sayu, tak semangat. Jelas sekali terlihat kelelahan, kekecewaan dan tanda tanya
besar di wajahnya yang tak begitu bersinar. Aku berusaha mengatakan bahwa ia
tak perlu kecewa, karena selama ini setidaknya ia selalu mendapatkan apa yang
ia mau. Namun, ia justru tersenyum kecut. Memandang apatis ke arahku.
Mataku
berusaha masuk ke matanya yang hitam. Berusaha mengetahui apa yang tengah
dilihatnya sehingga ia tak memerhatikanku. Terus masuk. Dan masuk. Dan, hop!
Aku sampai di dunia fantasinya. Disana, aku melihat banyak benang warna-warni.
Ada yang tergulung rapi, namun tak sedikit yang semerawut.
Terus
menelusuri dunia fantasinya yang berwarna. Bahkan, lebih berwarna dari dunia
nyatanya. Disana aku menemukan banyak sekali orang kembar. Entah kembar berapa.
Ada yang kembar dua, empat, enam belas, dua empat, enam empat, seratus, seratus
empat...
Aku
lelah. Aku ingin keluar dari dunia fantasinya yang sangat kontra dengan dunia
nyata. Aku jemu, namun terperangkap. Tak dapat keluar. Dan aku, seketika ingin
tidur agar terlupa semua hal tentang dunia fantasi itu. Dan ingin
menyadarkannya bahwa khayalan tetaplah khayalan yang tak akan pernah berganti
nama menjadi nyata.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar? Siapa takut.