Jangan menyesali cinta yang datang menyapa hatimu
Meski kamu tak bisa memiliki objek cintanya
Satu hal yang perlu kamu syukuri
Bersyukurlah atas kebahagiaan yang kamu rasakan ketika rasa itu datang
Meski hanya sesaat

Minggu, 28 Oktober 2012

cerita dulu

Masuk ke dimensi lain. Melihat masa lalu. Masa lalu dan masa lalu lagi. Hingga masa lalu dimana aku baru direncanakan.
Mereka tampak bahagia. Sepasang kekasih yang tengah dimabuk asmara. Merajut tali cinta yang akhirnya menghasilkan aku. Aku hadir dengan kepolosan dan ketidaktahuan tentang dunia luar dan masalah-masalah yang menghadangnya. Lima tahun aku menghurup udara dunia dengan keceriaan khas anak-anak. Tertawa, berlari dibawah guyuran hujan deras, menyusuri kali yang mengayunkan sebatang gedebong pisang hasil memandikan orang mati. Tertawa dan tertawa. Lepas. Tanpa beban. Hingga akhirnya aku menangis sejadi-jadinya. Aku tidak bisa menahan diri untuk tak menangis seperti orang gila. Aku dan dia terpaksa terpisah. Ia terpaksa meninggalkanku demi kebahagiaanku. Aku terpisah olehnya. Seseorang yang selalu menyuapiku saat ku ingin makan. Seseorang yang selalu memandikanku saat ku belum bisa mandi sendiri. Seseorang yang, aku sayang.
Terdamparlah aku disini. Bersama seorang tua yang berusaha menenangkan kondisiku yang masih liar baginya. Tangis dan air mata tak henti-hentinya berhenti keluar dari mataku. Aku masih merindukan sosok wanita itu. Dimana dia? Mengapa ia tak ikut denganku?
Proses penjinakkan atas diriku berjalan lancar. Seiring berjalannya waktu, aku tidak lagi menangis mengingat sosok wanita itu seperti dulu. Aku sudah menginjak usia sekolah. Bermain seperti biasa dengan kawan-kawan baru disini. Kembali tertawa, meski tak dapat kembali berlari dibawah derasnya hujan yang menyiram bumi. Tak dapat lagi berlari dibawah hujan sambil menyusuri panjangnya kali. Aku sedikit merasa terkekang. Tak boleh pergi jauh-jauh. Tak boleh melakukan ini-itu yang dapat membahayakan diriku.
Lama aku tak mendengar kabar wanita yang dulu rajin menyuapiku. Aku kini dekat dengan sosok wanita tua yang melahirkan sosok pria yang tengah merantau di kota. Pria itu pulang jika ada event-event tertentu. Seperti acara keluarga, atau bahkan setahun sekali saat idul fitri menjelang. Aku jarang menjalin kontak dengannya. Hanya yang aku tahu, aku menghubunginya jika aku menginginkan sesuatu.
Kini aku tlah tumbuh dewasa. Pikiranku pun sudah jauh memikirkan nasibku sendiri kedepannya. Meski aku seorang perempuan, tidak mungkin aku terus menggantungkan hidup pada mereka –wanita tua dan pria itu-. Ditambah lagi, kini ada orang lain yang mendampingi pria itu. Orang lain yang sejak dulu ku sadar, bahwa cepat atau lambat ia pasti hadir. Mengisi kekosongan hidup pria itu selama bertahun-tahun.
Pikiranku melayang ke kampung dimana aku dulu berlari dibawah hujan deras. Ke kampung dimana sesosok wanita paruh baya tengah menyiapkan masakkan untukku. Ke kampung dimana aku merasa sangat canggung saat aku kembali kesana sepuluh tahun setelah aku pergi dan terdampar disini. Ke kampung dimana seingatku suasananya tidak banyak berubah. Orang-orangnya yang ramah, dialeg mereka yang kental akan bahasa Betawinya, hingga gundukkan-gundukkan tanah berisi jasad masusia yang masih terhampar di sekitar rumah-rumah penduduk. Masih belum banyak yang berubah. Namun, aku, malah merasa canggung untuk menghadapi mereka kembali setelah sepuluh tahun sebelumnya, bahkan kepada wanita paruh baya itu sekalipun.
Pikiranku kembali kesini. Ke tempat ini. Ke kamar ini. Ke tanggal, bulan dan tahun ini.
Terdengar suara tangis balita yang tak bisa jauh dari ibunya. Terdengar suara ayahnya yang sedang bermain dengannya. Terdengar suara neneknya yang juga sedang bermain dengannya. Tawa mereka adalah hidupku. Tawa ayah dan nenekku. Sedang balita itu dan ibunya? Entah. Sampai saat ini, aku masih belum dapat menerima semuanya. Meski dihadapannya aku terbuka, namun masih ada yang mengganjal dalam hati ini. Mengapa bukan wanita yang benar-benar ibuku yang menempati posisinya mendampingi ayahku? Mengapa harus orang lain yang bertransformasikan statusnya menjadi istri ayahku sekaligus sebagai ibuku? Aku masih belum bisa terima. Jika saja ini bukan karena ayahku, tentu aku tidak akan mau.
Yang aku tahu dan yang selalu terpatri dihatiku, ibuku memang ada 2, yaitu Suniah dan Salimah. Ibu kandungku dan nenekku yang selama ini membesarkanku disini. Tiada lain tiada bukan. Tiada tambahan. Dan dia, tetap menjadi orang lain yang berubah status menjadi istri ayahku tanpa bisa menggantikan posisi ibu-ku.
Ya Allah... aku berharap, kisah cinta ayah dan ibuku, kelak tidak akan terulang kembali padaku. Aku ingin kisah cinta yang sempurna tanpa ada perpisahan keculai karena ajal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar? Siapa takut.