Masuk ke dimensi lain. Melihat masa
lalu. Masa lalu dan masa lalu lagi. Hingga masa lalu dimana aku baru
direncanakan.
Mereka
tampak bahagia. Sepasang kekasih yang tengah dimabuk asmara. Merajut tali cinta
yang akhirnya menghasilkan aku. Aku hadir dengan kepolosan dan ketidaktahuan
tentang dunia luar dan masalah-masalah yang menghadangnya. Lima tahun aku
menghurup udara dunia dengan keceriaan khas anak-anak. Tertawa, berlari dibawah
guyuran hujan deras, menyusuri kali yang mengayunkan sebatang gedebong pisang
hasil memandikan orang mati. Tertawa dan tertawa. Lepas. Tanpa beban. Hingga
akhirnya aku menangis sejadi-jadinya. Aku tidak bisa menahan diri untuk tak
menangis seperti orang gila. Aku dan dia terpaksa terpisah. Ia terpaksa
meninggalkanku demi kebahagiaanku. Aku terpisah olehnya. Seseorang yang selalu
menyuapiku saat ku ingin makan. Seseorang yang selalu memandikanku saat ku
belum bisa mandi sendiri. Seseorang yang, aku sayang.
Terdamparlah
aku disini. Bersama seorang tua yang berusaha menenangkan kondisiku yang masih
liar baginya. Tangis dan air mata tak henti-hentinya berhenti keluar dari
mataku. Aku masih merindukan sosok wanita itu. Dimana dia? Mengapa ia tak ikut
denganku?
Proses
penjinakkan atas diriku berjalan lancar. Seiring berjalannya waktu, aku tidak
lagi menangis mengingat sosok wanita itu seperti dulu. Aku sudah menginjak usia
sekolah. Bermain seperti biasa dengan kawan-kawan baru disini. Kembali tertawa,
meski tak dapat kembali berlari dibawah derasnya hujan yang menyiram bumi. Tak
dapat lagi berlari dibawah hujan sambil menyusuri panjangnya kali. Aku sedikit
merasa terkekang. Tak boleh pergi jauh-jauh. Tak boleh melakukan ini-itu yang
dapat membahayakan diriku.
Lama
aku tak mendengar kabar wanita yang dulu rajin menyuapiku. Aku kini dekat dengan
sosok wanita tua yang melahirkan sosok pria yang tengah merantau di kota. Pria
itu pulang jika ada event-event tertentu. Seperti acara keluarga, atau bahkan
setahun sekali saat idul fitri menjelang. Aku jarang menjalin kontak dengannya.
Hanya yang aku tahu, aku menghubunginya jika aku menginginkan sesuatu.
Kini
aku tlah tumbuh dewasa. Pikiranku pun sudah jauh memikirkan nasibku sendiri
kedepannya. Meski aku seorang perempuan, tidak mungkin aku terus menggantungkan
hidup pada mereka –wanita tua dan pria itu-. Ditambah lagi, kini ada orang lain
yang mendampingi pria itu. Orang lain yang sejak dulu ku sadar, bahwa cepat
atau lambat ia pasti hadir. Mengisi kekosongan hidup pria itu selama
bertahun-tahun.
Pikiranku
melayang ke kampung dimana aku dulu berlari dibawah hujan deras. Ke kampung
dimana sesosok wanita paruh baya tengah menyiapkan masakkan untukku. Ke kampung
dimana aku merasa sangat canggung saat aku kembali kesana sepuluh tahun setelah
aku pergi dan terdampar disini. Ke kampung dimana seingatku suasananya tidak
banyak berubah. Orang-orangnya yang ramah, dialeg mereka yang kental akan
bahasa Betawinya, hingga gundukkan-gundukkan tanah berisi jasad masusia yang
masih terhampar di sekitar rumah-rumah penduduk. Masih belum banyak yang
berubah. Namun, aku, malah merasa canggung untuk menghadapi mereka kembali
setelah sepuluh tahun sebelumnya, bahkan kepada wanita paruh baya itu
sekalipun.
Pikiranku kembali kesini. Ke tempat
ini. Ke kamar ini. Ke tanggal, bulan dan tahun ini.
Terdengar
suara tangis balita yang tak bisa jauh dari ibunya. Terdengar suara ayahnya
yang sedang bermain dengannya. Terdengar suara neneknya yang juga sedang
bermain dengannya. Tawa mereka adalah hidupku. Tawa ayah dan nenekku. Sedang
balita itu dan ibunya? Entah. Sampai saat ini, aku masih belum dapat menerima
semuanya. Meski dihadapannya aku terbuka, namun masih ada yang mengganjal dalam
hati ini. Mengapa bukan wanita yang benar-benar ibuku yang menempati posisinya
mendampingi ayahku? Mengapa harus orang lain yang bertransformasikan statusnya
menjadi istri ayahku sekaligus sebagai ibuku? Aku masih belum bisa terima. Jika
saja ini bukan karena ayahku, tentu aku tidak akan mau.
Yang
aku tahu dan yang selalu terpatri dihatiku, ibuku memang ada 2, yaitu Suniah
dan Salimah. Ibu kandungku dan nenekku yang selama ini membesarkanku disini.
Tiada lain tiada bukan. Tiada tambahan. Dan dia, tetap menjadi orang lain yang
berubah status menjadi istri ayahku tanpa bisa menggantikan posisi ibu-ku.
Ya
Allah... aku berharap, kisah cinta ayah dan ibuku, kelak tidak akan terulang
kembali padaku. Aku ingin kisah cinta yang sempurna tanpa ada perpisahan
keculai karena ajal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar? Siapa takut.