Jangan menyesali cinta yang datang menyapa hatimu
Meski kamu tak bisa memiliki objek cintanya
Satu hal yang perlu kamu syukuri
Bersyukurlah atas kebahagiaan yang kamu rasakan ketika rasa itu datang
Meski hanya sesaat

Senin, 24 Oktober 2011

Senburat Awan Jingga di Langit Senja


Aku diam dalam sebuah kotak berjalan dan kurasakan lelah serta penat yang seakan telah mendarah daging di tubuhku.
Hari ini ku lalui dengan penuh ketidakjelasan makna hidup. Ketidakjelasan atas maksud hati yang selalu tidak sampai kepada yang dituju.
Bus ini terus berjalan. Cuek. Tanpa memedulikan riuh rendah suara orang-orang di sekitarnya.
Aku kembali teringat akan masa-masa itu. Masa-masa dimana aku merasa aman, tenteram dan damai. Ku letakkan tanganku di dada dan menoleh ke arah luar.
Ku lihat semburat awan jingga telah mendominasi di permukaan langit senjaku. Indah. Lukisan Tuhan yang tiada terkira nilai estetikanya. Damai kurasakan di lubuk hatiku. Membuatku semakin kusyu dalam mengenang masa-masa itu.
Bus masih terus berjalan.
Lukisan langit senja dengan semburat awan jingga kini tampak makin indah dan sempurna karena dibubuhi dengan sentuhan lukisan alam lainnya yang hijau berupa hamparan sawah. Aku semakin tertarik dan tak ingin mengalihkan perhatianku dari lukisan mahadahsyat itu.
Aku masih termenung dengan kusyu. Mengenang masa-masa itu. Indah. Seindah lukisan alam ini.
Bus tetap cuek berjalan.
Tiba-tiba semua lukisan itu terhapus sedikit demi sedikit. Berganti dengan lukisan yang semrawut. Lukisan yang dibuat tangan-tangan iseng manusia.
Rumah-rumah saling berdempetan, hutan gundul, akses jalan yang sesak.
Aku masih termenung dengan kusyu. Mengenang masa-masa indah yang sementara itu dan segera berganti dengan masa-masa sulit seperti sekarang.
Tidak ada lagi sapaan via mediator layaknya dahulu.
Bus tetap berjalan dengan pongahnya.
Aku pun masih duduk. Tanpa berbuat apapun, aku hanya bisa menyesali apa yang terjadi kemarin.

Suasana Galau.
24 Oktober 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar? Siapa takut.