Berapa kali lo mengalami jatuh cinta? Kurang dari, lebih dari atau sama dengan umur lo sekarang?
Came on ! Ini pertanyaan bukan dimaksudkan mengubah mood lo jadi down ke galau. Ya, sudahlah, gue ketik pertanyaan ini juga karena kebawa lagu Lil Wayne-How to love. Nadanya enak banget, mendorong gue untuk mengetik tentang cinta. Hhaaaatcih !!! L
(Background song : Vierra-Kesepian)
Sumpah! gue sama sekali nggak ada maksud buat bikin lo galau dengan mencantumkan judul lagu Vierra itu. Apaan sih? Kayaknya yang dari tadi galau tuh gue deh dari tadi ngomongin galau-galau mulu L.
Ya oke, terlepas dari semua kata GALAU, gue mau sedikit cerita tentang kehidupan cinta temen gue. Ceritanya itu bikin gue kesentuh banget sampe gue nangis-nangis darah kalo inget cerita dia. Cerita ini lebih dalem dari comberan. Gue jamin, romeo and juliet nya William Shakespear, pasti lewat karena cerita ini lebih mengena ke kehidupan sekarang yang lebih banyak GAK KEBALES nya daripada BUNUH DIRI karena cinta nya. Cekidot! J
Udara panas menyelimuti ruang kelas XI.1 SMP Negeri 01 Pringsewu. Semua muridnya duduk rapi di bangkunya masing-masing dengerin Pak Sumitro, guru Bahasa Indonesia, ngoceh di depan kelas. Temen gue itu, sebut aja namanya Tiwi, duduk di bangku baris ke tiga dari depan. “Amaaaaaan” batinnya senang sambil bersiap tidur. Akhirnya, mereka semua hidup bahagia sampai ajal memisahkan mereka. Sekian. (Loh? Loh?)
Pak Mitro ternyata punya cara jitu nan kejam untuk memaksa murid-muridnya tetap melek dan semangat mengikuti mata pelajarannya. Ya. Dia membentuk kelompok diskusi. Kejam sekali!
Pak Mitro membacakan hasil pengelompokannya, siapa kelompoknya siapa. Dan hasilnya, Tiwi satu kelompok dengan Dara, Lila dan Dallas (nama pelaku kami samarkan demi kepentingan penyelidikan). Mereka akhirnya duduk berhadapan. Tiwi duduk dengan Lila, sedangkan Dara dengan Dallas. Mereka mengerjakan tugas yang diberikan bersama-sama dan menyanyikan lagu Lihat Kebunku dengan riang gembira. Sungguh senang melihat mereka tumbuh dewasa nan ceria. (Loh?)
Dara bertugas sebagai sekretaris, dan Tiwi sebagai security untuk mencegah kelompok lain yang berniat mencontek. Belum sampai dua jam pelajaran, bel istirahat berbunyi. Pak Mitro keluar kelas, anak-anak pun riang gembira. Sebagian dari mereka jajan di luar sekolah. Tinggallah Tiwi, Lila dan Dallas di kelompok mereka karena Dara pergi jajan. Suasana kelas yang tadinya sepi pun berubah ramai oleh celotehan anak-anak.
“Mau kemana, Lil?” tanya Tiwi pada Lila yang mulai beranjak pergi.
“Ke sana bentar.” Jawab Lila.
“Oh ya. Hati-hati ya kesananya. Titip salam, ya!” ujar Tiwi sembari asyik memainkan handphone barunya, Nokia N70.
“Salam buat siapa, hayooooooo?” tanya Lila penasaran.
“Yang lewat.” Jawab Tiwi, asal. Lila melempar Tiwi dengan papan tulis.
Saat Lila dan Dara pergi, tinggalah Dallas dan Tiwi yang ada di dalam kelompok tersebut. Tiwi tidak memedulikan kehadiran Dallas yang tengah duduk di depannya. Merasa tersingkirkan, Dallas pindah tempat duduk ke bangku tempat Lila, sebelah Tiwi. Tiwi menoleh ke Dallas, Dallas menoleh ke Tiwi. ‘Jeng jeeeeeeng!’ Jantung Tiwi berdetak lebih kencang.
“Aku kenapa, ya? Kata orang tua aku, aku nggak ada bakat buat sakit jantung.” Gumam Tiwi, polos.
“Hai, Dallas!” sapa Tiwi.
“Hai, Wi! Lagi ngapain?” tanya Dallas.
“Lagi... Mikirin kamu!” jawab Tiwi. Dallas kejang-kejang.
“Hehehe... Nggak, nggak bercandaaa!” ralat Tiwi melihat ekspresi Dallas yang menyeramkan.
“Mm... Oh iya, tugasnya gimana, nih? yang tadi belum selesai.” Ujar Tiwi, berusaha mencairkan es-es di Kutub.
“Coba sini aku lihat.” Pinta Dallas. Tiwi dan Dallas pun terlihat akrab dalam mengerjakan tugas tersebut. Penuh canda tawa, riang nan gembira. Namun, mereka tidak menyadari bahwa kedekatan mereka saat itu menimbulkan fitnah. Tiba-tiba, kelompok lain yang duduk di belakang mereka menyoraki mereka khas anak SMP. DEKAT SEDIKIT, SORAKIN. DEKAT SEDIKIT, SORAKIN.
“Cieeeeeeeeee... Tiwi sama Dallas!” ejek Yuri dan teman-teman lain. Tiwi menoleh ke belakang dengan wajah memerah. Jantungnya berdetak tambah keras.
“Ah... Mama bohong nih. Jangan-jangan aku memang punya sakit jantung, lagi!” batin Tiwi.
Tiwi menoleh pada Dallas saat anak-anak masih menyoraki mereka. Dallas cengar-cengir nggak jelas. Dia tidak peduli dengan perasaan yang Tiwi rasakan saat ini. Tiwi merasa, Tiwi merasa senang dengan ejekan teman-temannya itu.
Tiwi semakin gelisah memikirkan perasaannya itu. Makan tak selera, tidur tak nyenyak, ngupil tak nikmat, kentut pun ikutan nggak bau. Ada apa dengan Tiwi?
“Apa aku suka sama Dallas, ya? Suka nggak, ya? Suka, nggak. Suka, nggak.” Timbang Tiwi dalam hati.
“Aku suka sama Dallas, guys” ujar Tiwi pada ke empat sahabat karibnya, Meli, Rada, Sarah dan Tyas.
“Hah?!” respon mereka. Tiwi nyengir.
“Dallas yang pendek itu?” tanya Rada seolah-olah.
“Ya. Dallas kelas kita.” Jawab Tiwi.
“Nggak apa-apa, sih. Dallas ganteng kok. Putih, hidungnya mancung. Ya... walaupun pendek.” Ujar Meli. Tiwi semakin semangat dalam meraih pujaannya itu. Tiwi mencari segala cara untuk mengetahui seluk beluk tentang Dallas. Dimana rumahnya? Film yang dia suka? Makanan favoritnya? Siapa pacarnya? Dan berapa duitnya? Akhirnya, pilihannya jatuh pada Rega. Salah satu sahabat Dallas. Tiwi pun melancarkan strategi dengan mencari informasi pada Rega melalui sms dengan imbalan pulsa 5 ribu rupiah. Tiwi merasa senang karena akhirnya dapat juga info tentang pujaan hatinya itu. Sampai suatu saat hal buruk dimulai. Dallas dan teman-temannya membaca semua sms Tiwi pada Rega mengenai Dallas. Sekarang, tidak hanya Rega dan sahabat-sahabat Tiwi, namun sahabat-sahabat Dallas serta Dallas nya sendiri pun ikut tahu. Tiwi malu. Tiwi pun berusaha menjauh dari Dallas dan menangkis semua pertanyaan teman-temannya maupun perasaannya sendiri bahwa dia memang menyukai Dallas.
Tiwi Galau. Kini dia semakin jauh dari Dallas. Dia membohongi dirinya sendiri kalo dia suka sama Dallas. Namun, matanya tidak bisa berbohong. Karena setiap mata pelajaran berlangsung, pandangan Tiwi selalu terarah pada Dallas, cowok pendek putih, mancung tersebut. Meski begitu, Tiwi tetap ‘membenahi’ penampilannya dari yang cuek dan asal menjadi lebih perhatian dan rapi terhadap penampilan semenjak ada Dallas di hatinya. Contohnya, setiap pagi di jam-jam Dallas sampai di sekolah, Tiwi akan pergi ke taman belakang ruang TU. Disana dia mencuci tangan sebentar lalu membasahi poni ‘miring’ nya dengan air agar poninya yang ‘maksa’ itu tetap berposisi miring, tidak kemana-kemana. Sudah begitu, Tiwi langsung tancap gas berdiri di depan kelas, entah berpura-pura mengoperasikan handphone atau ikut gabung bergosip pagi-pagi dengan teman-temannya untuk menunggu kedatangan Dallas. Kalo Dallas sudah datang, bukannya say ‘hi’ atau senyum, justru Tiwi bersikap jutek dan seolah tidak peduli dengan Dallas. Begitulah hubungan mereka hingga saat ini sebagai Mahasiswa Universitas Lampung. Sama-sama JUAL LELANG.
Tiwi masih aja galau. Belum bisa melupakan Dallas yang selama ini cuek saja dengannya. Dia udah terlanjur CINTA MATI SURI.
Dengan bantuan sahabat-sahabatnya,Tiwi akhirnya memberanikan menghubungi Dallas via sms. Untungnya, Dallas meresponnya dengan sangat baik. Tiwi pun merasa mendapat ‘lampu hijau’.
“Kalo gue sampe jadian sama Dallas, gue bakalan traktir apapun yang kalian mau. Oke?!” tekad Tiwi pada sahabat-sahabatnya.
Tiwi menjalin hubungan pertemanan yang baik dengan Dallas selama beberapa bulan. Tiada hari tanpa sms di dunia mereka. Tentu, Tiwi duluan yang mulai. Tiwi sampai sangat yakin, bahwa Dallas juga pasti menyukainya. Sampai pada kenyataan itu datang. Seusai Idul Fitri ± tahun 2007, Dallas tidak pernah menghubungi maupun membalas sms Tiwi lagi. Tiwi heran. Namun, Tiwi nggak berani untuk terus menerus mengiriminya pesan. Hubungan mereka pun kembali menjauh tanpa alasan yang jelas. Tiwi kecewa. Sangat kecewa.
Hubungan mereka masih jauh. Tiwi mulai bisa sedikit melupakan Dallas. Tiwi masuk XI. IPS 1 sedangakan Dallas masuk kelas XI. IPA 2. Sangat jauh jarak kelas mereka. Tiwi mulai membuka hatinya untuk yang lain, teman sekelasnya.
Tiwi biasa nongkrong di kantin depan sekolah saat jam istirahat tiba dengan Zha, Luna dan Putri. Namun, saat itu mereka bertiga tidak ada yang mau diajak ke kantin, maka dengan terpaksa karena tuntutan perut, Tiwi pun pergi sendiri. Saat Tiwi mulai tenang dengan perasaan barunya itu dan mulai sedikit melupakan Dallas, tiba-tiba Tiwi dikejutkan oleh kenyataan pahit yang didengarnya sendiri dari sahabat SMP nya yang satu kelas dengan Dallas, yaitu Rada.
Tiwi berjalan sendirian pulang dari kantin itu menuju ruang kelasnya di lantai 2. Tiba-tiba Rada mencegatnya di depan ruang kelas XI. IPA 1 sebelum Tiwi naik ke atas.
“Tiwi!”
“Oy! Lama nggak ketemu!” jawab Tiwi pada Rada.
“Ya elo nya sih sibuk mulu. Makanya maen-maen geh ke bawah!”
“Hehe... Males gue. Udah betah di atas. Jugaan, gue kalo maen ke bawah nggak akan mampir kelas lo.”
“Ye... Kok gitu? Takut ketemu Dallas, ya?” ejek Rada.
“Hehe... Oh iya, dia gimana sekarang? Udah punya pacar belum?” tanya Tiwi, antusias.
“Hmm... Omongin soal itu, gue punya dua kabar buat lo. Kabar baik dan kabar buruk. Lo maunya yang mana?”
“Dua duanya. Kabar apaan emangnya? Dia udah punya pacar?”
“Itu kabar baiknya. Jadi, pujaan hati lo itu masih jomblo.” Jawab Rada.
“Oh, trus buruknya?” tanya Tiwi, biasa.
“Buruknya gini. Tadi gue kan ngobrol sama dia, gue tanya ‘Dallas pacarnya siapa sekarang?’ trus kata dia nggak ada dan dia minta cariin cewek sama gue dan Ramitha, tapi...” kalimat Rada dibiarkan menggantung.
“Tapi?” tanya Tiwi dengan wajah berbinar, karena dia merasa mendapatkan peluang besar.
“Tapi dia nggak mau kalo ceweknya itu elo.”
JEGGGGEEERRR!!! Tiwi ngerasa ancur banget. Dadanya sesak. Setelah bersusah payah menyembunyikan perasaannya yang hancur lebur seperti bubur dalam lumpur di depan Rada, akhirnya Tiwi berlari menaiki satu per satu anak tangga menuju ruang kelasnya dengan hati yang hancur. Dunia bagai runtuh setelah dia mengetahui bahwa Dallas ILL FEEL dengannya. Dia meluapkan perasaan hancurnya dengan menangis di kelas dan rumahnya hingga matanya terlihat bengkak.
“Dallas jahat! Gue benci!!”
Akhirnya, dengan tekad yang kuat Tiwi pun bertekad untuk melupakan orang yang bernama Dallas itu.
Tiwi dan Dallas masih dipertemukan dalam satu kampus yang sama. FKIP UNILA. Namun hubungan mereka masih saja jauh. Tiwi semakin malas melihat wajah Dallas. Namun, tidak bisa dipungkiri pula kalau dia kadang ngerasa kangen dengan Dallas. Secara, Tiwi masih menyimpan rasa suka terhadap cowok itu. Sering, dari kejauhan Tiwi mengintip ke gedung prodinya Dallas dan mencari tahu keberadaannya. Setelah ditemukan, senyum Tiwi terkembang.
Namun, Tiwi tetaplah Tiwi. Meski rasa kengennya terhadap Dallas yang cukup besar, Tiwi tetap tidak berani bersikap biasa terhadap Dallas. Jadi, tiap kali mereka bertemu atau berpapasan, mereka akan saling bersikap tidak kenal satu sama lain. Kalo nggak Tiwi yang ‘melengos’, ya pasti si Dallas. Sangat kekanak-kanakan.
Sedikit demi sedikit, dengan banyaknya aktifitas di kampus dan intensitas pertemuan dengan Dallas secara langsung berkurang banyak, Tiwi mulai bisa melupakan Dallas. Meskipun Tiwi masih memiliki harapan terhadap Dallas, namun tidak sebesar dulu karena Tiwi pun sedang dekat dengan cowok lain.
Pada suatu malam, Rada kembali sms Tiwi, memberitahu Tiwi bahwa Rada telah memberitahu Dallas bahwa Tiwi menyukainya. Tiwi shock! Jelas sangat shock.
“Kenapa sih, Rada tuh lancang banget?? Itu kan dulu! Sekarang tuh gue udah nggak punya perasaan apa-apa lagi sama Dallas!” keluh Tiwi pada Evira.
Namun, dibalik keluhannya itu, ada sedikit rasa senang di hati Tiwi bahwa akhirnya Dallas tahu bahwa selama ini Tiwi menyimpan perasaan lain padanya, meskipun Tiwi tahu sejak lama bahwa Dallas juga sudah menyadarinya sejak lama. Tiwi pun penasaran terhadap respon Dallas. Mendengar cerita Rada bahwa Dallas bersikap biasa saja terhadapnya, Tiwi pun kembali merasa suka lagi dengan cowok itu. Memang Tiwi itu sangat PLIN PLAN.
Tanggal Ulang Tahun.
Tiwi mendapat ucapan yang banyak dari teman-temannya melalui facebook maupun sms. Ada beberapa ucapan yang sangat spesial untuknya saat itu. Yaitu, 1 dari seseorang yang sedang dekat dengannya dan 1 lagi adalah ucapan dari Dallas. Baca?? DARI DALLAS! Tiwi jelas excited banget dapet ucapan itu. Dallas mengirim ucapanannya via wall fb dan sms dengan menggunakan bahasa jepang. Tiwi terharu dan GEER tingkat Dewa. Namun, nyatanya Dallas melakukan itu pun karena disuruh oleh Rada, bukan karena kemauannya sendiri. Tiwi pun kembali kecewa, meski tak banyak.
Tiwi penasaran dengan Dallas. Dia ingin menjalin hubungan yang baik lagi dengan Dallas. Tiwi nggak pengin diam-diaman seperti ini terus menerus. Dia ingin menjadi wanita yang ramah terhadap Dallas. Tiwi kembali mengirim pesan via sms kepada Dallas.
‘Dallas lagi ngapain?’ ujar Tiwi via sms. Dia sengaja tidak membubuhkan namanya, karena dia yakin bahwa Dallas sudah mengetahui nomornya. Namun,
‘Lg duduk aja. Ini siapa?’ Tiwi nelen tembok.
“Nggak mungkin lah dia itu nggak tahu kalo itu nomor gue! Jelas-jelas kemaren dia smsin ucapan ulang tahun ke gue, ish!” Tiwi mulai mengamuk dan makan beling.
Karena kekecewaan yang dia rasakan berulang kali itu, akhirnya Tiwi mengahpus nomor Dallas tanpa membalas sms nya kembali dan meremove serta memblokir facebook Dallas. Selesai. Dia ingin melupakan semua tentang Dallas. Dan semoga dia bisa. Dia yakin bahwa seseorang yang LEBIH BAIK dari seorang Dallas telah menunggunya disana.
Tiwi mulai BEBAS dengan perasaannya. Hatinya bebas dari Dallas. Saat ini, tidak ada nama Dallas sedikit pun di hatinya. Malah, terkadang dia heran, mengapa dulu dia amat begitu menyukai Dallas. EMPAT TAHUN dia memendam semuanya dari Dallas! Tobat kalo gua mah... J. Dallas Ridho Rifaldo (bukan nama sebenarnya).
Nyelesein di kamar kostan Cica.
Ngetik sendri. Cicanya udah tidur. Selese Pukul 23:50 WIB
Kampung Baru 10/10/2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar? Siapa takut.