Kembali aku menulis. Kembali aku
berpikir tentang apa yang sudah aku pikirkan selama ini tentang dia. Lewat
tulisan seperti ini. Lewat kata-kata seperti ini, aku tahu. Aku tahu betapa aku
memang sangat mengaguminya. Dan lewat tulisan serta kata seperti ini pula aku
tahu. Aku tahu bahwa tak ada timbal balik atas perasaanku ini. Aku sendiri. Ya,
hanya aku seorang yang merasakannya. Maksudku, antara kami. Ya, wajar. Karena
memang tidak ada apa-apa dan mungkin tidak akan pernah ada apa-apa diantara
kami, kini dan nanti.
Susah memang untuk menyudahi dan
menghilangkan rasa yang sudah melekat sejak kali pertama kami bertemu dua
setengah tahun silam. Namun, sekali lagi mungkin aku harus menyadarkan diriku
sendiri dengan sekuat tenaga bahwa ‘mungkin’ apa yang aku inginkan selama ini
tak kan pernah terwujud meski ku tahu bahwa jodoh, hanya Allah yang tahu.
Ah, disaat seperti ini aku ingin
berbagi dengan seseorang. Namun, bibir ini seakan terkunci saat ku akan
membaginya kepada teman. Aku tidak mau. Mungkin, menyimpannya sendiri dan
membaginya lewat tulisan cukup membuatku puas. Ya, cukup.
Yang aku harapkan kini adalah aku
ingin selalu bisa melihatnya menyunggingkan senyum, entah untuk siapapun itu.
Meski bukan buatku. Yang terpenting adalah, aku tak ingin senyumnya pudar
menghiasi wajahnya. Ya, kini baru itu keinginanku. Ehm, tepatnya, ku paksakan diriku untuk tak berharap lebih. Entah
nanti. Mungkin harapanku untuk ya, dapat lebih dari sekedar melihat
senyumannya, tak dapat lagi dibendung~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar? Siapa takut.